Menolak Bicara

Jujur saya tersanjung diberi undangan buka bersama (Bukber), dalam rangka pelantikan Pengurus Komisariat PMII UNU Sunan Giri, Jumat (06/03/2026) di Auditorium Hasyim Asy’ari Gedung Rektorat.

Pada salah satu sesi bincang-bincang bertema “Asah, Asih dan Asuh” semua senior dan sejarawan telah menyampaikan paparan perihal kaderisasi siapa-siapa Ketua Komisariat dari masa ke masa. Ini momentum bagus silaturrahmi lintas generasi.

Saya, tetap memposisikan sebagai tamu undangan. Etikanya, ya saya mendengarkan kepada beliau-beliau yang ditunjuk untuk menjadi narasumber pada kegiatan itu.

Karena sudah pada menyampaikan ulasannya, giliran moderator mengarahkan dan meminta saya untuk menyampaikan secuil motivasi. Jujur saya menolak. Dengan alasan jelas kurang lebih sebagai berikut:

Pertama, saya bukan kader PMII yang dilahirkan dari kampus hijau. Jika saya ikut ngomong, tentu akan menjadi tidak baik. Sebab, secara historis saya tidak “berkontribusi” di Rayon maupun Komisariat PMII yang ada di Unugiri.

Lebih tepatnya, saya kader “naturalisasi” yang diberi undangan memeriahkan momentum pelantikan pengurus baru. Apa yang disampaikan senior Sahabat Ahmad Taufiq, bila saya dikata sebagai penggerak dari belakang saja, betul sekali. Saya menyadari itu sebagai pilihan kini.

Meski “dinaturalisasi” oleh sahabat/ti PMII di Komisariat UNU Sunan Giri, perlu saya informasikan bila jejak saya di organisasi PMII kala masih kuliah di IAIN –sekarang UIN Walisongo Semarang, organisatoris banget. 

Mulai dari pernah menjadi Pengurus Rayon, Komisariat, hingga sampai ke Cabang Kota Semarang. Artinya, jenjang organisatoris sistematis. Tidak ada yang kutu loncat. Bahkan, kala menjadi bagian dari Pengurus Komisariat PMII Walisongo, saya sempat dikirimi dokuman lama salah satu buletin pergerakan.

Di buletin bernama Nyami’an”, alhamdulillah masuk menjadi tim redaksi, tepatnya sebagai Redaktur Pelaksana (Redpel) di Edisi ke 4.

Buletian Nyami'an. dok.Sabiq KH.

Kedua, waktu. Kegiatan yang sudah berlangsung mulai dari sore hari, plus dalam kondisi puasa, tentu melelahkan. Alasan “waktu” bukan karena saya gawe-gawe. Tetapi hasil pantauan saya kepada sahabat/i sudah ingin segera pulang.

Belum jika kemudian yang perempuan di tunggu sama keluarga, tetapi belum pulang. Oleh karena, menghurmati orang yang berbicara silih berganti. Jika saya turut ngomong, bisa-bisa mereka akan tidak mendapat izin berorganisasi lagi.

Apalagi, perjalanan untuk pulang bila posisi jauh juga akan menjadikan hawatir para orang tua yang memiliki anak perempuan.

Semoga, dua alasan ini bisa diterima mengapa saya menolak bicara. Masih ada senior internal Unugiri yang sebenarnya lebih berhak untuk ngomong ngalor-ngidul. Karena, dia dilahirkan ke-PMII-annya dari kampus ini.

Posting Komentar

0 Komentar