Barokah Keprank

Ini debut pertama saya ke Malo, untuk mengisi materi workshop, Sabtu (24/01/26). Saya memang ngajak alumnus mahasiswa Prodi PAI Unugiri, M. Ainun Najib. Tujuannya, dia punya potensi untuk menjadi narasumber dibidang kepenulisan. Hingga, suatu saat –misal saya berhalangan, dia bisa badali.

Ada hal yang begitu unik. Yakni, ketika saya sampai di Madrasah Aliyah Islamiyah Malo – atau disingkat Maisma. Saya dan Mas Najib, coba mencari warung terlebih dahulu. Apalagi, saya sampai lokasi lebih awal –30 menit, sebelum acara dimulai. 

Mahasiswa Asistensi Mengajar (AM) yang ada di situ, juga sudah menemui. Namun saya bilang, bila saya dan Mas Najib mau keluar terlebih dahulu sekadar mencari warung.

Saya dan Mas Najib, kemudian keluar gerbang madrasah. Tetapi di seberang jalan, ada orang lagi duduk di kursi kayu, dan satu pemuda memegang sapu. 

Saya menghampiri beliau, seraya bertanya perihal keberadaan warung, bapak –yang diseberang jalan, kemudian menunjukkan di sebelah kanan ada. Akhirnya saya ke sana dan ternyata tutup.

Saya dan Mas Najib, kemudian kembali; dan ditanya oleh bapak tadi, “Kok balik mas,” tanya beliau. Saya jawab, “Tutup bapak, badhe madosi teng mriko –dengan menunjuk arah sebelah kiri,” ucap saya.

Tidak terlalu jauh, kisaran 500 meter, alhamdulillah saya dan Mas Najib mendapat warung ndeso. Jujur saya suka. Setelah saya dan Mas Najib turun dari motor, saya memesan nasi untuk sarapan dengan sayur menir, tambah pincuan, pelas jagung, sama telur ceplok

Adapun Mas Najib, memesan kopi hitam, oleh sebab telah sarapan sebelum berangkat.

Pembukaan Tiba

Setelah tepat pukul 09.00 Wib, dan sarapan plus minum kopi selesai, saya dan Mas Najib kembali ke madrasah. Sesampainya di sana, saya kemudian langsung menuju aula madrasah. 

Di situ banyak calon anak Osis yang sudah pada berkumpul. Saya kemudian menyiapkan laptop untuk presentasi, kemudian menunjukkan kepada Mas Najib file-filenya.

Ketika waktu pembukaan tiba, saya jadi terkaget-kaget, bila orang yang saya temui di seberang jalan, ternyata adalah Kepala Madrasah Aliyah Islamiyah Malo. Dalam hati saya, seperti ke-prank atau menjahili, ngerjain, atau memberikan kejutan kepada seseorang dengan tujuan bercanda, menghibur, atau iseng

Segera, setelah saya berjejer di samping beliau, saya coba mengenalkan diri. Awalnya agak canggung dan kaku. Tetapi tidak begitu lama, beliau akhirnya welcome oleh beberapa pengalaman di lembaga pendidikan –waktu di Semarang, di mana ada kesamaan visi. 

Terlebih, sebelumnya saya telah melakukan riset terlebih dahulu perihal website madrasah, sosial medianya aktif atau tidak aktif, sampai tahun berapa.

Setelah ngobrol asyik dan serius, Bapak Fatah –Kepala Madrasah Aliyah Islamiyah Malo, membuat kaget. Beliau menginginkan saya hadir di madrasahnya untuk mengasih diklat kepada tim humas. 

Awalnya, saya bertanya-tanya apa betul! Tetapi, beliau langsung meminta tanggal kepada saya. Akhirnya, setelah saya membuka kalender kegiatan, Kamis (29/01/26), saya akan kembali mengisi diklat menulis berita untuk branding website madrasahnya.

Hikmah yang bisa saya petik adalah, sikap ramah kudu kita lakukan kepada sesama. Meski sekadar penjaga keamanan, maupun tukang bersih-bersih. Karena bisa jadi, yang kita hadapi adalah orang penting, bahkan pemilik sebuah lembaga pendidikan. 

Selain itu, kemampuan menulis adalah kemampuan yang bisa menjawab tantangan mendatang, yang boleh dikata banjir informasi. 

Jika kita –pribadi, SDM di sebuah lembaga pendidikan tidak memiliki keterampilan itu, ia akan tersisih oleh algoritma  kompetitor lain yang massif dalam hal branding, serta dhue kemampuan linuih perihal nulis.

Posting Komentar

0 Komentar