Tetap Nulis Meski Sibuk

Baru diminggu kedua bulan Februari 2026, kesempatan menulis saya menkan. Sebelumnya, kesibukan telah mendera. Bila boleh saya bercerita sedikit, hal itu dimulai dari akhir Januari 2026.

Tanggal 30, 31, Januari dan 1 Februari 2026, saya mengikuti Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak NU (PD-PKPNU) di Sukosewu. Tepatnya di Pondok Pesantren Al-Is’af Desa Sidodadi. Selama Pendidikan –tiga hari, fisik dan psikis digembleng. Pagi ke siang, siang ke sore, sore ke malam full materi. 

Adapun di sepertiga malam dibangunkan untuk mujahadah, dilanjut subuh berjamaah dan olahraga bersama-sama yang dipimpin oleh Babinsa

Jika circle-nya demikian, praktis tidak sempat membuka gadget, oleh karena yang dibutuhkan adalah istirahat meski sebentar.

Peserta ke Panitia

Ketika di Sukosewu posisi saya menjadi peserta. Kala kegiatan selesai Minggu (01/02/26) pukul 00.00 Wib, saya sampai di rumah pukul 02.00 Wib pagi dini hari. Tidur sebentar, paginya setelah subuh sudah ancang-ancang bila Senin (02/02/26), terdapat jadwal ke kampus untuk mempersiapkan kegiatan PD-PKPNU di Unugiri.

Artinya, posisi saya kali ini menjadi panitia. Ketika ke kampus, kebetulan saya bagian dokumentasi untuk keberlangsungan acara tiga hari ke depan. Adapun siangnya, tepatnya pukul 13.00 Wib adalah kegiatan Pra PD-PKPNU yang wajib diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, satpam hingga kebersihan.

Selasa (03/02/06) siang pukul 13.30 Wib adalah pembukaan kegiatan. Mulai dari inilah selama dua hari berikutnya hingga Kamis (05/02/26), waktu betul-betul tersita. Apalagi, panitia kudu menyiapkan jalannya kegiatan serta menjadi nomor wahid yang hadir sebelum peserta datang.

Oleh sebab kesibukan inilah, menulis jadi terlupa. Fisik yang sudah lelah, ternyata terasa berat untuk dibuat menuangkan secuil apa yang dialami. Dibuat mikir, yang muncul malah rasa malas. 

Padahal, meminjam Burhan Fanani (2016: 29), bila melalui pengamatan bisa digunakan untuk menelurkan ide menulis. Ide menulis lainnya bisa ditemukan melalui membaca, menafsirkan bacaan, diskusi, melakukan kegiatan kreatif, serta menonaktifkan televisi.

Meski begitu, niat untuk menulis tetap bergelora. Meski tertatih-tatih, saya tetap tuliskan ide yang muncul. Entah kapan berakhirnya saya nikmati. Saya tambah dari kata, baris, paragraf hingga sempurna dan terposting sebagaimana dibaca kini.

Keinginan untuk menulis meski sibuk kudu dilakukan. Pertama, diawali dari niat, yakni ingin menelurkan tulisan terbaru. 

Jika niat sudah di-delete, tentu luapan psikis –untuk menulis, akan berakhir padam. Selanjutnya jika sudah padam, hari akan berganti yang tidak disadari sudah 1, 2, 3 bulan, bahkan setahun pensiun menulis.

Kedua, dengan nyicil menulis. Sebagaimana diketahui, bila kesibukan mendera yang KO adalah fisik. Karenanya, nyicil kala ada sela waktu untuk menulis meski 1, 2 paragraf adalah cara tepat agar tetap produktif menulis.

Sebagai gambaran, untuk menyelesaikan tulisan ini, saya sambi setelah menemui tamu –penerbit, dosen, mahasiswa; kemudian istirahat siang kala di warung kopi, serta menanti laptop di cas hingga penuh secara off kala telah habis. 

Ketiga, mempublis. Artinya, memposting karya baik melalui kanal web dan blog pribadi hingga mengirimkan ke media baik cetak maupun online. Tujuannya sebagai bentuk syukur, bahwa tulisan yang dihasilkan apresiasinya adalah dengan cara di posting agar bisa dibaca publik.

Tiga usaha ini, adalah kiat yang saya lakukan agar saya tetap memiliki karya tulis terbaru ditengah kesibukan yang mendera.

Posting Komentar

0 Komentar