Hari libur ini Minggu (18/01/26), banyak saya gunakan istirahat, bersih-bersih rumah, dan membaca buku baru yang saya beli. Ketika sore, tepatnya setelah sholat ashar, saya keluar untuk ngopi di Warkop KAU Bojonegoro.
Entah mengapa, saya kok tiba-tiba ‘kangen’ ingin ngopi. Memang, saya akui, awal ngopi seringnya memang di sini. Inginnya, mencari suasa baru. Kalau sebelumnya waktu dihabiskan di kamar untuk membaca, kini saya geser. Adapun istri, lagi ada acara tasyakuran bersama temannya.
Meski ke warkop, buku tidak lupa saya bawa. Tujuannya, bila ada kesempatan untuk membaca, ya saya akan baca.
Kala sampai warkop, saya segera pesan kopi hitam dan meletakkan tas yang isinya laptop beserta charger, mouse, dompet, gadget, dan buku. Kemudian, saya ambil lap untuk membersihkan abu rokok yang berserakan di atas meja.
Kalau dipikir-pikir, hal kecil perihal nyerbeti meja di warkop seperti kurang gawean. Itu bila dilihat orang lain. Kan sudah ada penjaga warkop!
Sekilas memang demikian. Tetapi, ada alasan logis, bahwa saya ingin membentuk diri menjadi pribadi yang senang terhadap kebersihan. Apalagi, ini bagian dari perintah agama, bila kebersihan adalah sebagian dari iman.
Ketika pesanan kopi sudah datang, saya buka laptop untuk melukiskan apa yang telah saya lakukan dari pagi hingga sore ini. Semua ingin saya catat. Penting atau tidak penting, yang utama saya memiliki catatan.
Sambil nyuruput secangkir kopi yang tidak ada pegangannya, saya tetap menikmati. Mungkin dengan kekurangan –pegangan yang pothel meminjam terminologi Jawa; kesederhanaan, lalu beralih tempat, menjadikan saya produktifi menulis.
Absen
Sementara ketika melihat gadget, group kampus lagi ramai membahas rihlah di 2026, yang membuat saya tidak tertarik. Aura –teman-teman, sedang menunggu momen tersebut.
Lalu, mengapa saya absen? Pertama, saya lupa untuk mendaftarkan ikut rihlah. Kedua, saya memang ingin fokus ke Semarang untuk lebih banyak konsentrasi menuntaskan S3.
Kala di warkop, meski sendiri, saya tetap happy. Saya bisa fokus menulis, meski hanya berupa catatan sederhana ini. Apalagi, tidak banyak orang yang open untuk mencatat apa saja yang telah dialaminya berwujud tulisan.
Masih banyak yang berpikiran, bahwa topik di luaran sana itu yang penting. Perihal musibah, keraton Solo yang masih terjadi perselisihan internal, lalu kabar anak budayawan yang diangkat sebagai tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN) dan lain-lainnya.
Ketika membuat tulisan ini, saya membayangkan, andai jumlah pendudukan di Indonesia mengutip sensus.bps.go.id tahun sensus 2020 ada 270.203.917 jiwa, lalu ngopeni perihal apa yang telah dilakukan dengan menulis, tentu sejumlah itu pula tulisan akan dihasilkan.
Apalagi, usaha untuk menulisakan apa yang telah kita lakukan itu dalam bahasa Fahruddin Faiz (2025: 47-50) dalam buku Seni Menyikapi Hidup: Rahasia Melampaui Diri Sendiri disebuat dengan kegiatan reflektif. Yakni, usaha untuk memantulkan kembali apa yang telah kita alami berwujud karya, salah satunya tulisan.
Lebih lanjut menurut beliau, manakala kita mengeluarkan uneg-uneg dari dalam diri sendiri, beliau mengategorikan sebagai suara hati humanistik. Efeknya, sangat menyehatkan diri secara psikologis.
Jika sudah ada teori suara hati humanistik –mengutip kang Fahruddin Faiz, tentu hal-hal yang terjadi dari diri ini begitu penting; dan layak untuk diabadikan setara pejabat, selebritis, serta simbol ketenaran lain yang dikategorisasikan.
Selamat menulis apa yang telah kita alami kawan.

0 Komentar