Ada hal yang unik kala saya naik travel dari Bojonegoro ke Malang, Rabu (14/01/26) sore. Ketika saya menyepakati titik jemput di PCNU Bojonegoro –oleh sebab masih aktivitas di kampus; kala sudah naik saya kaget, penumpangnya hanya satu. Yakni, saya.
Saking penasarannya, saya bertanya Pak Edy sang sopir. 'Niki penumpangnya saya saja jih pak?'. Beliau kemudian menjawab 'Iya,' kata beliau dengan terbuka dan murah senyum.
Dalam pikiran sederhana saya, ini seperti 'carter' satu armada untuk mengantarkan saya ke Malang. Agar lebih akrab, saya memilih tempat duduk di depan. Kebetulan, beliau aslinya adalah Bojonegoro tepatnya dari Kepohbaru.
Dalam perjalanan, saya diajak melintas jalan alternatif Bojonegoro, Balen, Kedungadem, Sukorame, Kabuh, Ploso Jombang; dan baru kemudian di Ngoro perbatasan Jombang-Kediri, ketambahan penumpang. Hingga sampai Malang, penumpangnya hanya kami berdua.
Ngobrol Bojonegoro
Selama perjalanan dari Bojonegoro ke Malang, saya dan Pak Edy ngobrol banyak perihal Bojonegoro. Salah satunya, progres program pemimpin kini.
Bojonegoro yang kaya minyak, sepertinya terlalu eman-emani bila kemudian 'tidak' membelanjakan APBD-nya dengan sepenuh hati. Artinya, dalam membangun, aspek kualitas perlulah menjadi filosofis dasar, bukan sekadar mengambil untung belaka.
Tema lain, perihal perpolitikan berupa suap kala menjelang pemilu. Kemudian juga, etika komunikasi pemimpin dengan yang dipimpin kala pemimpin sudah menjadi pemimpin. Karena yang banyak terjadi, pemimpin hanya akan turun gunung lagi, kala akan pemilu.
Nginep di Masjid
Pukul 21.50 Wib, saya sampai Masjid Unisma. Suasana sepi. Sampai saya mau izin bila mau menginap belum ada orang. Akhirnya, saya sholat dan menetap dahulu di masjid untuk minta izin bilamana ada pengurusnya yang hadir.
Sebagai delegasi dari Perpustakaan Unugiri, tidak masalah bermalam di masjid. Karena di Geshous Unisma, telah penuh. Apalagi, kala saya di Semarang, pernah menjadi aktivis masjid. Alhasil, perihal 'ngemper' di masjid itu sudah biasa.
Tidak berapa lama, saya ketemu dengan pengurus masjid. Masnya saya hampiri, kemudian saya jelaskan maksud bila saya izin mau menginap. Alhamdulillah diperbolehkan.
Bahkan saya diminta naik ke lantai atas, agar tidak kedinginan. Setelah naik ke lantai 2, memang ada karpetnya yang bisa digunakan untuk alas sebagaimana saran pengurus masjid.
Kala di lantai 2, saya membayangkan juga bisa nyaman sebagaimana geshous. Bedanya, privasinya saja. Tapi secara fungsi, kalau saya, bisa tidur itu saja sudah cukup.
Mungkin paradigma ini, hanya cocok bagi laki-laki yang kulina jadi aktivis Remaja Masjid (Remas). Sebab, ia tidak memedulikan bagaimana fasilitas kemudian.
Jika ada, di tempati. Bila tidak tersedia sebagaimana yang diidam-idamkan, tidak terlalu berkecil hati. Justru kembali ke rumah Allah –masjid, adalah sebaik-baik tempat menurut saya.
Apalagi, kala menginap di masjid, kita bisa bangun labih awal. Itu sebab, lantunan murotal Al-Qur'an sebagai penanda dari sholat subuh dini diperdengarkan. Dan saya, bisa sholat tahajud pula.
Kala ditugaskan oleh kampus, prinsip 'tidak' membebani saya kedepankan. Jangan sampai, menjadi aji mumpung dan sebagainya.
Artinya, mumpung tugas dinas keluar, kemudian menuntut fasilitas seenaknya. Tidak memedulikan keadaan kampus mampunya seberapa dalam membekali perjalanan dinas.

0 Komentar