Alhamdulillah, bisa mendapat doorprize dari panitia Seminar, Workshop, dan Musyawarah Nasional Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (APPTNU) III di Unisma, Kamis-Jumat (15-16/01/26).
Perihal kegiatan ini, jujur saya pendatang baru. Selain karena baru –November 2025 diberi SK Kepala Perpustakaan, kepengurusan ditingkat pusat belum begitu mengenal. Momentum inilah bagi saya sebagai sarana silaturahim dengan beliau-beliau.
Khusus doorprize yang saya dapat, bagi saya menarik. Saya husnuzon, panitia sudah mendesain dengan sedemikian rupa agar peserta munas aktif, kerasan, dan mendapatkan pengalaman baru pasca kegiatan.
Doorprize berupa tumbler, buku karya Riadi Ngasiran berjudul ‘Resolusi Jihad NU: Perang Sabil di Surabaya Tahun 1945’, menyatu dalam goodie bag dari Bank Jatim, bagi saya istimewa.
Mangapa?
Pertama, doorprize ini tidak mungkin didapatkan bila panitia tidak menjalin mitra sponsor. Usaha –atau proses, panitia inilah yang bagi saya mahal harganya. Tidak ternilai.
Karenanya, kepada panitia kegiatan, saya sampaikan jempol luar biasa atas kerja keras menyiapkan, mengorganisir, melaksanakan, dan melakukan evaluasi berkala hingga kegiatan berjalan dengan baik.
Kedua, dari sisi usaha memperoleh doorprize. Logika sederhana, doorprize tentu tidak 'tiba-tiba' begitu saja diberikan. Ada persyaratan formalistik, yakni ‘aktif’ bertanya sebagai feedback materi yang disampaikan narasumber.
Jika demikian, yang mahal adalah ‘kemauan’ untuk bertanya. Inilah yang dimaksud 'proses' untuk ikut berpartisipasi menghidupkan forum. Melalui proses 'bertanya' inilah, sebagai bagian terima kasih atas respon –saya sebagai audien, akhirnya diberi doorprize.
Spesial Buku
Ketika saya bawa pulang, doorprize ini adalah oleh-oleh spesial forum Munas III APPTNU 2026. Setidaknya, saya sudah berani adu argumen dalam forum nasional, bisa memberi ide konstruktif, dan solutif, terhadap problem organisasi yang dihadapi.
Spesial lagi, perolehan doorprize ini saya abadikan dalam bentuk tulisan. Sehingga bisa dijadikan success story, bahwa di mana pun itu harus membawa impact. Ide, gagasan, dan keberadaan diri dalam forum, sebisa mungkin berdampak kepada peningkatan skill diri, maupun lembaga tempat bernaung.
Selain bingkisan spesial dari panitia, alhamdulillah, saya juga mendapatkan hadiah spesial buku dari teman Madura bernama Ahmad Wiyono, yang berjudul 'Menggapai Asa Seabad Merawat Jagad'.
Ini keren! Sebab, ‘mungkin’ saya satu-satunya yang diberi. Hanya saja, saya lupa tidak membawa buku karya sendiri di arena munas.
Keakraban saya dengan Ahmad Wiyono memang tidak disengaja. Kala mengikuti seminar, saya di posisi dua meja dari belakang. Adapun Cak Wiyono –begitu saya memanggil, berada di belakang sebelah kiri. Tepatnya, pojok kiri belakang sendiri.
Yang membuat kami akrab adalah, ketika selesai materi terdapat sesi foto bersama, di mana salah satu posenya terdapat slogan Unisma, 'melesat'. Slogan itu kemudian sering didengungkan kala boring mendengarkan materi.
Ketika beliau mengucapkan hal itu, saya ikut meneguhkan 'melesat', hingga kami akhirnya saling tertawa bersama mengucapkan slogan bergantian. Tujuannya, agar semangat tumbuh kembali.
Kala acara seminar dan workshop selesai –tepatnya ashar, tibalah giliran peserta diminta ke perpustakaan Unisma. Sebagaimana agenda kegiatan adalah tour library. Ketika mulai dari lantai 1, kami memang bersama-sama. Kemudian naik di lantai 2.
Di lantai 2 inilah, tidak dinyana-nyana (sangka-sangka), Cak Wiyono tiba-tiba memberi saya buku. 'Saya kasih kenang-kenangan,' ucapnya. Saya pun berucap 'Terima kasih Cak, netx akan saya berikan buku saya bila kita bertemu kembali,' imbuh saya.
![]() |
| Ahmad Wiyono berpecis |
Sebagai upaya mengabadikan momentum spesial tersebut, saya kemudian berfoto bersama beliau. Inilah teman Madura yang dari tidak kenal, menjadi kenal seperti saudara.
Melalui tulisan kecil ini, semoga doorprize dan kenangan spesial dari kawan, menjadi awet. Memorinya, bisa saya buka kapan saja. Terlebih, kawan saya ini ternyata penulis ulung juga yang sudah malang melintang di jagat media massa.
Terima kasih ilmu dan pengalamannya APPTNU dan the best buku dari Dosen Universitas Islam Madura (UIM) Cak Wiyono. Memontum kemarin, spesial sekali. Ada canda, serius, humor, dan sebagainya.
Semua bercampur jadi satu, demi membesarkan masa depan literasi di Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama tercinta.


0 Komentar