Tepat pukul 05.49 Wib, ‘Perpustakaan Unugiri akan direnovasi,’ begitulah bunyi pesan chat WhatsApp dari mas Heru kepada saya, Senin (12/01/26).
Mas Heru pemilik nama lengkap Heru Dwi Prasetiyo adalah Kepala Staff Umum dan Administrasi di Direktorat Umum, Keuangan dan Teknologi (UKT) Unugiri. Beliau dulu juga pernah didapuk menjadi Plt. Kepala Perpustakaan Unugiri.
Kabar ini bagi saya adalah bagian dari ‘keberhasilan’ agar perpustakaan menjadi sarana ilmiah –membaca, meneliti, hingga tempat melahirkan aneka karya.
Jika melihat fungsinya yang banyak, kemudian didukung dengan fasilitas, tentu hal itu semakin dekat keterwujudannya.
Perpustakaan yang di dalamnya menyimpan koleksi buku, penelitian berwujud e-digital, tentu akan bermanfaat dan menjadi ruang yang nyaman untuk stakeholder kampus. Tidak terkecuali mahasiswa.
Sebab sampai saat ini, perpustakaan masih menjadi tempat asyik bagi mahasiswa untuk kuliah daring, menyelesaikan tugas, sekadar ngobrol, hingga mencari bahan bacaan untuk kemudian dipinjam.
Saya beberapa kali melihat mahasiswa menyelesaikan tugas mata kuliah –branding institusi, mengambil video di perpustakaan. Sampai ada yang membaca sambil selonjoran yang nikmat rasanya. Alhasil, perpustakaan menjadi rest area yang menyenangkan.
Gass Branding
Kabar kecil membahagiakan ini tentu tidak terlepas dari branding perpustakaan. Apa maksudnya? Begini!
Beberapa bulan ketika saya diberi SK menjadi Kepala Perpustakaan, yang saya lakukan adalah bagaimana membuat kegiatan bulanan. Tempatnya, di perpustakaan.
Alhasil di Bulan November 2025, PerpusGiri –sebutan akrab Perpustakaan Unugiri, mengadakan bedah buku karya alumni.
Bedah buku tersebut selain di live-kan di youtube Library Unugiri, juga tidak lupa diberitakan di portal online blokbojonegoro.
Setelah debut bulan pertama berhasil, kemudian di Bulan Desember 2025, PerpusGiri ganti menghadirkan penulis kondang Slamet Widodo, yang merupakan kolumnis rubrik ‘Lembar Budaya’ Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Kebetulan hasil karya beliau yang telah tayang di koran tersebut, diawetkan berwujud buku antologi yang diterbitkan Mitra Karya.
Oleh karena belum ada tempat untuk membedahnya, PerpusGiri langsung menyambarnya sehingga jadilah kegiatan ‘Temu Penulis 01’.
Tidak beda dengan kegiatan perdana, di kegiatan bulan Desember itu juga live disiarkan melalui kanal youtube Library Unugiri dan juga pemberitaan di blokbojonegoro.
Dua kegiatan ini adalah upaya membranding PerpusGiri agar semakin dikenal. Internal dan eksternal. Branding ini tidak ‘berniat’ mengenalkan saya –yang ditunjuk Kepala, bukan! Melainkan, bagaimana PerpusGiri dikenal. Itu saja.
Langkah untuk melakukan branding tidak berhenti. Bulan Januari 2026 ini, akan ada pelatihan menarik, yakni memanfaatkan data yang telah dihasilkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bojonegoro untuk kepenulisan ilmiah dan non ilmiah.
Mengapa ini penting?
Hasil data BPS mengutip https://bojonegorokab.bps.go.id/, tentu bisa dijadikan pijakan yang bukan berdasar asumsi; tetapi berbasis data dari sensus dan survey baik yang dilakukan sendiri, hingga dari departeman atau lembaga pemerintah lain sebagai data sekunder.
Pasca bulan Januari ini, insya Allah Februari, Maret, dan seterusnya akan ada pula program non circular di perpustakaan Unugiri.
Sehingga, ketika di perpustakaan konotasi ‘membaca-meminjam’ tidak dominan. Artinya sebatas ritual bila ke perpus. Tetapi, hal lain perihal giat program literasi juga disediakan dan menjadi program andalan.

0 Komentar