KETEMU kawan meski lewat daring di seminar online (webinar) Leader Talk 6 yang diselenggarakan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI), membuat saya bahagia.
Senior yang berjumpa di Musyawarah Nasional (Munas) III Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (APPTNU) awal 2026 tersebut, alhamdulillah masih kenal.
Ketika ikut webinar, saya coba screenshot keikutsertaan. Kemudian, saya komentari dahulu status kegiatan yang dilaksanaan beliau –Perpustakaan Unusa. Baru setelah komen terkirim, saya kirim capture pula.
Jawab beliau unik, “Ayo siap2 bertanya, biar muncul dari UNU...” dan masih ada teks lanjutan yang tidak bisa saya tuangkan. Bagi saya, ‘permintaan’ tersebut sebuah kehormatan.
Hal lain, peserta yang saya lihat dari kehadiran yang mencapai 700 lebih, tentu tidak semuanya berasan dari UNU. Homogen tepatnya. Karena alasan itulah, beliau meminta ada partisipasi dari UNU.
Atas permintaan Ibu Yeni –sapa untuk beliau– saya penuhi. Hanya saja, oleh karena posisi masih ada kegiatan, pertanyaannya tidak bisa saya sampaikan secara langsung. Bentuk bertanya via kolom chat, saya sampaikan sebagai respon balik.
Ketika sesi tanya jawab dimulai, Ibu Yeni memang mempersilahkan penanya yang rise hand untuk menyampaikan pertanyaan. Setelah selesai, tidak disangka beliau juga menampilkan penanya yang mengirimkan daftar pertanyaan lewat chat zoom. Mengejutkan, bahwa penanya pertama yang tampil adalah saya.
Agar momentum tersebut tidak terlewatkan, akhirnya saya screenshot. Hanya saja, ketika saya akan paste-kan, tanpa sadar saya juga copy link daftar hadir peserta webinar yang sudah dibagikan. Alhasil, setelah link absen saya paste-kan di google, saya baru ingat bila saya juga lagi capture foto pertanyaan yang ditampilkan dan dibaca Ibu Yeni.
Alhasil, ketika saya mau simpan, yang ter-paste bukan foto hasil capture, melainkan link daftar absen. Jadi, agak kecewa karena momentum capture-nya tidak bisa saya ketahui keberadaannya. Alias, gagal.
Ketemu
Setelah pulang dari kampus ba’da maghrib, saya kemudian bersih-bersih, makan, lalu mengeluarkan buku-buku yang saya pinjam dari perpustakaan. Niatnya, memang untuk menyiapkan materi pembelajaran untuk Rabu (23/09/2026).
Di tengah menikmati membaca buku itulah, muncul keinginan untuk menulis apa hal menarik hari ini yang telah terlalui. Saya kemudian menuliskan cerita ‘reoni’ di webinar. Saking penasarannya di mana foto hasil capture tersimpan, saya kemudian membuka youtube untuk mencari tutorial sebagaimana maksud di atas.
Di mesin pencarian youtube, saya ketikkan printah ‘file capture laptop tersimpan di mana’. Begitulah yang saya tanyakan. Kemudian, saya disuguhkan beberapa channel youtube hingga kemudian memilih ‘Solusi Tipi’. Ketika baru menonton tutorial di menit ke 00.36, saya akhirnya cari drive beralamat ‘Pictures’ lalu ‘Screenshots’.
Di folder tersebut setelah terlacak, posisi atas ternyata tahun lama. Saya tarik ke bawah, dan alhamdulillah dokumen screenshots-nya ketemu.
Kejadian kecil ketemunya hasil penyimpanan screenshots, mengingatkan kepada narasumber webinar bernama Orisa M, bila skill AI yang dimilikinya diperoleh secara otodidak, rajin mengikuti pelatihan, hingga seminar gratis perihal tool AI.
Apa yang beliau sampaikan bisa diambil pelajaran, di era keberlimpahan informasi (information overload) meminjam bahasa Hardisman dalam buku Hidup Produktif tanpa Stres (2026:5), keperluan tips, pengetahuan yang kita butuhkan guna mengatasai problem diri bisa ditemukan dengan mencari panduannya.
Di sinilah kemampuan untuk mau mencari, belajar mempraktikkan secara mandiri (otodidak) menjadi penawar bila kecakapan diri itu bisa diperolah hingga ditingkatkan. PR-nya adalah mau atau tidak.
Akhirnya, terima kasih Ibu Yeni, melalui webinar, silaturahmi tetap bisa tersambung dengan baik.

Social Plugin