Di Perpustakaan, Kenang Cerita Indah Masa Lalu

PAGI ini, Sabtu (19/9/26), saya tidak tahu bila ada agenda perlombaan di Unugiri. Hal itu, setelah teman sekolah di Attanwir Talun menelpon, namun tidak terangkat. Saya kemudian membalas, akan bisa bertemu sambil ngopi di warung belakang PCNU.

Setelah bersua di warung, rupaya si ‘IB’ telah ada di sana. Yang dipesan es teh dan juga mie godok. Saya kemudian memesan kopi hitam kepada Pak Tolib, kemudian menyeruputnya sembari menemani teman sarapan. Ketika sudah selesai, bersama dia, saya kemudian pindah ke perpustakaan.

Meski libur, saya bisa masuk sebab dikasih kuncinya. Kopi hitam yang belum habis, turut serta saya bawa untuk menemani ketika tanda-tanda ngantuk tiba.

Kala di perpustakaan, saya sembari menata-nata. Mulai dari buku yang belum rapi di meja resepsionis, kemudian bantal duduk yang luput dikembalikan. 

Atas fenomena ini, saya mencatat dua hal. Pertama, kepada pustakawan, akan lebih baik ‘ikut’ membereskan tempat kerja masing-masing sebagai bentuk ikut memiliki. 

Kedua, kepada mahasiswa, juga ikut menata kembali bantal duduk, lalu skripsi yang ambil di rak untuk dikembalikan lagi, kemudian juga kursi baca. 

Terhadap yang pertama, maka dalam rapat setiap dua pekan, saya akan menyinggung hal itu kepada pustakawan. Adapun untuk hal yang kedua, saya akan lapor kepada sarpras untuk melanjutkan acc ajuan pembelian standing banner sebagai ‘pentunjuk’ informasi kepada pemustaka saat berkunjung.

Kenang Masa Lalu

Kala bersama teman yang menunggu muridnya mengikuti lomba kaligrafi memperingati Harlah ke-97 Ma’arif NU, saya sambil ngobrol masa lalu kuliah S1. Kala membuka dialog, saat dahulu kuliah bersama di Semarang, buku cetak waktu itu menjadi satu-satunya sumber primer pembuatan makalah dan tugas akhir. 

Alhasil, manakala buku sudah dipinjam orang lain, maka, kadang kita kebingungan. Cara agar tetap bisa mendapatkan buku, otak pun diputar. Mulai dari pergi ke toko buku loak (pertokoan buku bekas), hingga mencari makalah-makalah yang siap dipresentasikan dari kakak kelas.

Kenangan masa lalu itu serasa kembali kala kami di Perpustakaan Unugiri. Saya juga coba menyimpulkan, bila semangat literasi kami –saya dan dia– kala kuliah luar biasa. 

Kalau yang tersisa hanya buku referensi, tidak bisa dipinjam, dan hanya bisa dibaca; maka, jurus memfoto copy adalah solusi andalan agar kami tetap bisa belajar untuk menyelesaikan tugas.

Dari kebiasaan foto copy inilah, literasi mengenal buku dan kitab, baik yang berbahasa Arab maupun Inggris jadi pengalaman berharga. Kenang saya dengan teman, kami bisa mengidentifikasi judul buku, kitab; halaman sampul, serta pembahasan materi yang akan dikutip. 

Praksis, di masa lalu itulah, kami sudah dibekali bahwa kejujuran akademik dalam hal sitasi menjadi nomor wahid untuk dijaga. 

Selain itu, kemampuan mengidentifikasi cover yang menunjukan nama buku dan penulis hingga penerbit; lalu pada halaman cover depan, identifikasi berlanjut kepada kejelasan tahun dan kota penerbit. Kemudian terhadap halaman sumber yang dikutip, gamblang dan jadi pengalaman empiris yang manis.

Selain identifikasi sumber rujukan yang ada di perpustakaan, keterampilan yang masih kami kenang adalah mengetik secara manual pada mesin ketik ‘Brother’. 

Selain suara cetak-cetek, pada mesin tersebut setiap mau mengetik kudu menyiapkan pita karbon. Bila tidak, maka hasil ketikannya remang-remang dan tidak jelas.

Hal lain, ketika hasil ketiknya tidak jelas, yang lebih menyedihkan adalah ketika mengetik satu lembar, lalu pada ujung bawah terjadi kesalahan pengetikan. 

Praksis, bila tidak ada tipe-x, akan mengulang ketik dari atas lagi. Bila tidak, maka ketika makalah dipresentasikan komentar pedas dari dosen akan didapatkan.

Berikutnya, selain mengulang ketik bila terdapat kesalahan, resiko mengetik secara manual tidak bisa secara langsung memasukkan kutipan ayat Al-Qur’an serta hadis. 

Maka, ketika membuat makalah lalu menyertakan kutipan dalil, otomatis akan dikasih jarak untuk kemudian bila sudah selesai mengetik, baru kemudian ayat maupun hadis ditulis by manual.

Kenang cerita indah masa lalu yang kami urai tersebut, bukan sekadar memori biasa. Ia mengungkap perilaku berkarakter yang menjadi bekal integritas kini. Alhamdulillah.