Poin Sambutan, Sapa Maba UKM Al Banjari

JUMAT (25/09/2026), saya dikasih undangan oleh Ketua terpilih M Rizky Ardiansyah, untuk berkenan memberi sambutan dikegiatan Sapa Mahasiswa Baru UKM Al Banjari Syauqul Musthofa Unugiri. 

Sebagaimana tertulis di undangan, bila kegiatan tersebut berlangsung Sabtu (26/09/2026) di Gedung FSA Lt. 2. Karenanya, saya minta mas Ketua mengingatkan melalui WA agar tidak lupa. 

Sore pun tiba. Pukul 15.30 Wib, saya memang sudah sampai kampus. Sambil menunggu informasi acara sudah dimulai atau belum, saya mampir di perpustakaan. 

Tidak lama mas Ketua memberi kabar bila kegiatannya telah dimulai. Tepatnya, saat mahalul qiyam saya akan dikabari lebih lanjut. Itu karena, sambutan pembina setelah itu.

Untuk menyiapkan apa isi sambutan, saya kemudian berjalan dahulu ke Gedung FSA. Kurang lebih 10 menit berada di bawah, sambil menikmati silir-semilir angin, saya susun poin-poin sambutan di agenda kegiatan melalui aplikasi notes atau catatan bawaan gadget.

Dari Lantai 1 FSA, terdengar jelas sampai di mana membaca Kitab Albarzanji. Ketika 3 poin sambutan sudah tertulis, tibalah lantunan mahalul qiyam. Saya pun berjalan ke atas. Tujuannya, mengikuti prosesi untuk mengharap syafaat kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Tiga Poin 

Setelah mahalul qiyam ditutup dengan doa, giliran saya menyampaikan 3 poin sambutan yang sudah tercatat di notes. 

Pertama, “kegiatan Sapa Maba,” ungkap saya, ini menjadi sarana mengenalkan Banjari. Pengurusnya siapa dan juga program kerja UKM meliputi apa saja. 

Karenanya, saya sampaikan kepada Maba, melalui kegiatan ini mereka bisa menyalurkan bakatnya bermain rebana, hingga belajar vocal sholawat.

Kedua, setelah menjadi bagian dari anggota UKM dan program kegiatan diikuti, keberadaan Maba akan menjadi penerus organisasi. 

Saya sampaikan kepada yang hadir, UKM ini butuh penerus. Makanya keberadaan Maba, akan menjadikan regenerasi organisasi silih berganti untuk terus eksis.

Ketiga, tempat belajar soft dan life skill. Kepada mereka, perihal soft skill, itu bagaimana teman-teman belajar menerapkan toleransi, saling bantu membantu, hingga menjaga persatuan dalam satu wadah organisasi (UKM). 

Adapun life skill, UKM memberi keterampilan vokasional (kejuruan) bila urusan skill main rebana, membaca sholawat, serta memimpin mahalul qiyam, tempatnya adalah di UKM Al Banjari. 

Saya sampat bernyata kepada yang hadir, apakah keterampilan memimpin mahalul qiyam dibutuhkan oleh masyarakat? Jawabnya “ia”. 

Jika demikian, saya sampaikan kepada Ketua dan pengurus yang hadir, fokuskan kepengurusan ini untuk membekali anggota bisa memimpin mahalul qiyam. 

Apalagi, ketika saya bertanya kepada salah satu vokal, terdapat berapa versi untuk bacaan mahalul qiyam. “Ada dua,” ucapnya. Jika demikian, life skill –memimpin mahalul qiyam– bisa dijadikan program prioritas agar semua anggota baik laki-laki dan perempuan bisa. 

Bila ada alasan suara, saya sarankan bisa gurah, yang kemudian disambut tawa bahagia oleh teman-teman. 

Melalui chat dengan Ketua saya sampaikan, bila mahalul qiyam baiknya menjadi kurikulum wajib dan setiap anggota diusahakan bisa. 

Karenanya, bila UKM Al Banjari membuka kelas training memimpin mahalul qiyam, saya mau ikut daftar. Biar tambah jos jis.