Silaturahim Intelektual

Hari libur, Minggu (15/02/26), saya ngemenke dolan ke jurnalis senior Nanang F, yang kini berdinas di Kominfo Bojonegoro. Kalau biasanya, kami bertemu di kantor beliau, kali ini sambil ada hajat ngembelikan motor teman istri, saya sempatkan ke rumah beliau di Kanor, Bojonegoro.

Sebelum sampai sana, saya mampir pula nyucikan motor istri yang sudah rusoh –kotor. Dalam benak saya, motor yang kotor itu dari sisi berkendara agak bagaimana gitu. Seolah-olah, tidak enak berkendaranya.

Setelah motor selesai dicuci, saya teruskan perjalananke Desa Bungur Rt 2 Rw 5, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, yakni rumahnya mas Nanang. 

Guna mempermudah, saya minta map alamat rumahnya. Alhamdulillah ketika sampai, saya tertarik dengan rumah kayu jati beliau. Mas Nanang menyebutnya, "omah doro kepek" dalam terminologi Jawa.

Yang bikin menarik adalah, di bagian depan tepatnya ruang tamu, ada almari buku koleksi beliau. Saya iseng tanya, "mulai dari kapan beliau mengoleksi buku?" Jawab beliau, "sudah sejak kuliah". Begitu beliau memberi informasi.

Hadirnya koleksi buku di ruang tamu, jadi kemenarikan sendiri. Rumah kayu bergenteng –yang kini ramai anjuran gentengisasi ala Presiden Prabowo, menambah indah siapa saja yang memandang. Tidak terkecuali saya.

Saya yang awalnya ngobrol dengan beliau di kursi, oleh sebab penasaran koleksi buku beliau, jadi lesehan di dekat tiga almari kaca yang penuh dengan buku. Koleksi buku yang dimiliki mas Nanang, adalah koleksi lama-lama mulai dari sastrawan kondang Pramoedya Ananta Toer.

Kemudian buku sejarah Bojonegoro, beliau juga punya koleksi. Sehingga, kepada saya beliau bilang bila kini sedang terkesima dengan sejarah. Karenanya, beliau ingin di rumahnya –mendatang, bisa buat kolektor buku yang dipajang perihal ke-Bojonegoro-an.

Ngobrol Literasi

Kala lesehan di keramik depan almari buku, saya dan Mas Nanang asyik ngobrol perihal literasi. Dalam hal ini perihal membaca dan bagaimana menggiatkan menulis. Ketika saya sampai rumah beliau pukul 10.00 dan 12.20 Wib baru pulang, artinya selama 2 jam 20 menit itulah kami asyik ngobrol.

Mas Nanang juga menunjukkan kepada saya buku biografi Mbahnya yang ditulis sendiri dan dicetak untuk kalangan sendiri. Biografi tersebut juga menampilkan foto jadul beliau, kartu tanda penduduk (KTP), serta suasana jadul kala berada di langgar atau mushola.

Dari karya sederhana keluarga itulah, saya jadi terinspirasi ingin juga mendokumentasikan biografi keluarga saya sendiri. Mungkin kini belum berarti. Tetapi mendatang, hal itu akan menjadi bukti berharga buat saya dan pembaca sebagai generasi penerus.

Kepada saya, Mas Nanang juga bercerita bagaimana kala di Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, lapak dan toko buku menjadi tempat tidak absen dikunjungi. Karenanya, beberapa koleksi yang dimiliki tidak luput dari hunting ke lapak-lapak buku bekas. Meski sebagian, ada yang dari scroll via facebook.

Foto bersama Mas Nanang F di depan almari koleksi buku yang dimiliki.

Diolehi Buku

Saat ngobrol di lantai, Mas Nanang yang senang dengan buku perihal jurnalistik menunjukkan kepada saya koleksi lamanya. Salah satunya, buku berjudul "Wartawan Pembina Masyarakat" karya Prof. Floyd G. Arpan yang disadur oleh S. Rochadi. Uniknya buku ini diterbitkan Binatcipta Bandung tahun 1970, masih menggunakan ejaan lama.

Kepada Mas Nanang saya sampaikan, bila saya juga gemar ngoleksi buku tentang jurnalistik. Dulu kala di Kota Semarang, buku itu saya gunakan untuk rujukan mengajar ekskul jurnalistik. 

Karenanya, ketika di toko buku ada buku-buku tentang jurnalistik atau perihal tulis-menulis, tangan ini sudah "kèri" untuk lekas ambil dan membelinya.

Setelah banyak, niat saya hanya ingin punya sebagai bahan bacaan. Hingga akhirnya, ketika Allah Swt beri anugerah jadi dosen Prodi PAI Unugiri, ternyata ada mata kuliah jurnalistik. Alhasil, keikutsertaan dalam pelatihan jurnalistik, lalu koleksi buku jurnalistik yang saya miliki, kini berguna banget akhirnya.

Dan ketika kini dikasih oleh-oleh Mas Nanang perihal buku jurnalistik, khazanah koleksi buku saya bertambah. Karenanya, terima kasih Mas Nanang untuk oleh-olehnya yang kini bisa saya gunakan sebagai rujukan mengajar.

Secuil yang saya lakukan, saya menganggapnya sebagai silaturahim intelektual. Yakni, upaya untuk menyambung persaudaraan antar kawan dengan cara berkunjung, serta mendiskusikan pengetahuan hingga fenomena yang terjadi untuk diambil solusi dari hasil membaca.

Semoga, silaturahim intelektual ini senantiasa terjaga. Amin.

Posting Komentar

0 Komentar