Muta’alliman: Jalan Hidup Seorang Pembelajar

Kegiatan sebesar apapun bila tidak ada jejak digitalnya, apalah arti. Begitu pula sebaliknya. Artinya, sekecil apa pun kegiatan bila ada capturenya, ia bagai ‘saksi’ hidup apa yang kita lakukan serta yang organisasi selenggarakan.

Sebagai ‘saksi’ hidup, peristiwa yang kita alami ini penting. Karena setelah ia lewat, tidak akan kembali. Agar bagaimana gambaran peristiwa kemarin itu ‘serasa’ awet, menuliskannya adalah sarana indah.

Saya membayangkan, bahwa apa yang saya dan kita lakukan kemarin banyak sekali  nilai-nilai baiknya. 

Sebagai misal, mengutip tulisan Pak Slamet, singgahnya beliau di sebuah Masjid Al-Mukminun ketika perjalanan mengantar putrinya, adalah dalam rangka mengistirahatkan diri sejenak. 

Dalam banyak kasus sebagaimana informasi yang berseliweran di internet, bila penyebab kecelakaan salah satunya diakibatkan oleh istirahat yang kurang, alias sopir mengalami kantuk.

Pengalaman ‘mengistirahatkan’ diri di esok hari –laku peristiwanya, kemudian kita tulis hari ini, sungguh inilah nilai lebih yang tidak dimiliki manusia biasa. Ia ditulis. Tidak sekadar dikenang. 

Bisa saja bila ketika pengalaman kemarin kita ceritakan secara verbal, derajat kepercayaan orang yang kita ajak bicara, memunculkan asumsi antara 'ya' dan 'tidak' percayanya.

Tetapi coba, secara verbal kita ceritakan, kemudian didukung pula dengan catatan dan ilustrasi foto, maka 100 persen orang yang kita ajak ngobrol akan mengamini apa yang disampaikan.

Seni Publikasi

Hal serupa saya apresiasi kepada UKM Penalaran dan Penulisan Griya Cendekia Unugiri. Dari kegiatan Penerimaan Anggota Baru (PAB) yang kemarin –Sabtu (03/01), terselenggara, pasca itu pula berita kegiatan ditayangkan melalui website yang dimiliki.

Saya tidak mempermasalahkan konten berita yang disajikan dahulu, tetapi mau memulai untuk menulis apa yang dilakukan UKM kemarian dalam bentuk digital, adalah langkah maju luar biasa.

Kemampuan UKMPGC spesialisnya adalah pada kepenulisan akademik. Hanya saja, kemampuan itu –karya tulis akademik, akan sekadar nangkring dan tersegmented bagi akademisi dan intelektual saja, bila tidak ditebar kepada publik.

Hadinya pemberitaan berjudul ‘Penerimaan Anggota Baru UKMPGC Sebagai Langkah Awal Mencetak Kader Berbasis Data’ adalah proses untuk belajar kepenulisan non akademik, yang justru sangat dibutuhkan akademisi. 

Sehingga, kemanfaatan ilmunya tidak sekadar di bangku sekolah, madrasah, pondok pesantren, hingga ruang perkuliahan. 

Jika itu yang terjadi, ia sama saja dengan menutup diri. Padahal, banyak sekali di luaran sana, orang mengharapkan lebih keilmuan dari akademisi-intelektual agar bisa membumi, meminjam Bahasa Prof. Quraish Shihab.

Jika ia –akademisi-intelektual, tidak bisa menerjemahkan keilmuan dirinya kepada publik, artinya ia belum selesai dengan dirinya sendiri. 

Apa yang dianugerahkan Allah Swt kepada dirinya –berupa gelar S1, S2, S3 hingga profesor, tidak mendapatkan tempat di ruang publik. Sebab, ia tidak pernah membumikan pengetahuannya agar lebih kaya manfaat.

Melalui berita yang dipublis, secara berkala, – saya sebagai pembina, bisa memberi koreksi. Sebagai misal, jumlah baris yang perlu dibatasi kala menulis di word, lalu pilihan foto bukan foto pasca kegiatan, melainkan foto aktivitas. 

Hal yang lain, penentuan jenis dan ukuran font yang menjadi ciri khas sebuah portal pemberitaan, dan seterusnya.

Hal-hal detail ini kudu mulai dipelajari oleh orang yang memiliki personal blog (blog pribadi) hingga website organisasi. Mengapa? Agar kala menyajikan, tulisan itu ada seninya. 

Sebagai contoh, memiringkan penggunaan bahasa asing. Entah itu Bahasa Inggris, Arab, Jawa –ngoko maupun alus. Kemudian keterampilan menempatkan tanda titik, koma secara tepat, dan masih banyak lainnya yang harus dipelajari agar karya tulisanya lezat.

Manfaatnya Apa?

Ketika tulisan telah dishare kepada orang lain, pembaca akan menganggap bila tata tulisnya sudah betul. Sudah baku sebagaimana panduan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBB), serta Ejaan Yang Disempurnakan(EYD) atau belum!

Karenanya, dari sekadar membiasakan menulis, kita bisa belajar banyak hal yang lain. Menata kalimat agar mudah dipahami, menghindarkan typo, menghadirkan karakteristik tulisan kita atau organisasi, hingga unggul dalam kecepatan menulis dan mempublish.

Percayalah, soft skill itu luput diajarkan di bangku sekolah, madrasah, hingga kuliah. Ruang non formal lewat organisasi, group online, adalah sarana belajar sepanjang hayat. 

Apalagi, bila saya, panjenengan, semangat belajar di mana pun dan kapan pun, kita telah mengamalkan hadis kanjeng Nabi Muhammad Saw sebagaimana redaksi ‘belajarlah dari buaian hingga liang lahat’.

Akhirnya, ‘Kun ‘aliman’, jadilah engkau seorang ilmuwan atau ‘muta’alliman’, orang yang terus belajar, sangat tepat kita jadikan fondasi belajar menulis.

Posting Komentar

0 Komentar