Kelola Blog itu Siapkan Diri jadi Penulis Multitalented

Ide group ‘Pena Blogger’ ini lahir setelah beberapa kali saut-tulisan terjadi. Silahkan baca lebih lengkap tulisan saya berjudul ‘Group Pena Blogger, yang Setuju Monggo Gabung’.

Dalam lamunan kecil, saya membayangkan jika memiliki group yang sama-sama punya blog, tentu akan menarik. Artinya, diri ini selain ingin dibentuk terampil menulis; juga akan ditingkatkan pula skill edit, publisis, yang secara tak langsung jadi paket komplet penulis serba bisa (multitalented). 

Pada pembentukan pertama menulis, kita yang memiliki blog, mau tidak mau ‘dipaksa’ untuk mengisinya. Oleh karena dipaksa, maka mau tidak mau, kita akan selalu menyiapkan karya tulis baru untuk dipublis di blog.

Karenanya, meminjam bahasa Bambang Trim di buku ‘Menulis Saja: Insaflah Menulis sebelum Menulis itu Dilarang’ (2018:10), blog yang dimiliki itu seperti inkubator atau tempat ‘memanaskan’ kita –sebagai calon penulis, agar lahir karya tulis yang kemudian mengukuhkan diri sebagai penulis andal. 

Salah Ketik

Kemudian talenta kedua, adalah edit atau memperbaiki naskah; yang itu dilakukan setelah tulisan kita selesai. Jika kemudian saat menulis, maka karya tulis tidak akan pernah selesai. 

Kala kita memiliki blog, kemampuan yang satu ini pastilah akan kita lalui. Tujuannya, agar tulisan kita terhindar dari kesalahan pengetikan yang terjadinya kala slip pada jari atau disebut galat tipografi

Contohnya mulai dari huruf terbalik, ‘ketika-ketiak’; ‘kepala-kelapa’ dan banyak kata lainnya. Kemudian berupa huruf hilang, ‘saring-saing’; ‘keras-kera

Ada lagi karena penambahan huruf, ‘kubu-kubur’; ‘urung-murung’. Kemudian, huruf yang berganti ‘subur-bubur’; ‘hantu-bantu’. 

Ketika tulisan itu kaya typo, membaca akan menjadi tidak bersemangat. Kemudian, pembaca akan memiliki asumsi macam-macam. Salah satunya, profesionalisme penulis yang dipertanyakan. 

Oleh karena itu, pada tahap edit atau meminjam bahasa Bambang Trim ‘swasunting’ selain mengecek galat tipografi, pengecekan lain juga pada konsistensi tata tulis, penyajian, kebahasaan, legalitas dan kepatutan, serta ketelitian data dan fakta, 

Kemudian ketiga, wilayah publisis atau keahlian dalam bidang publikasi. Skill ini membekali kita untuk menata urutan penerbitan digital. Mulai dari judul, foto, keterangan foto, tulisan, sub judul, hingga identitas dari penulis

Perihal judul kala akan dipublikasikan, diri ini akan diajari untuk membuat judul menarik, bisa merangkum konten, dan tidak panjang. Alhasil, jika kita semakin produktif menghasilkan tulisan, kemampuan untuk mereko judul akan otomatis muncul.

Kemudian foto sebagai penegas isi tulisan. Tahap ini, feeling untuk memilih yang selaras dengan tema tulisan akan didahulukan. Bukan sekadar foto yang berlawanan, atau tidak nyambung dengan tema karya yang ditulis.

Adapun keterangan foto, tentu ini bagian dari pemberi informasi mengenai foto yang disematkan. Hal ini perlu, agar pembaca juga mengetahui siapa dan tentang apa foto yang dimaksud.

Lalu dalam hal tulisan, saya biasanya menentukan jumlah baris masing-masing paragraf. Utamanya, kala hal itu akan dilihat via mobile. Sehingga, tips saya kala menulis adalah, membatasi jumlah setiap paragraf kala menulis di word, yaitu tidak lebih dari empat baris.

Juga sub judul, ini sebagai penegas bahwa ada tema ‘penting’ di dalam tulisan. Sehingga, pembaca akan mudah menemukan kosa kata tentang nilai penting apa yang dimaksud.

Yang terakhir tentang identitas penulis, itu bilamana ada kiriman dari luar perihal kegiatan. Maka, sebagai rasa menghargai bila itu bukan karya saya, tapi karya orang lain, layak pula kiranya diberi apresiasi ‘kejelasan’ si pembuat.

Akhirnya, bersyukurlah bagi kita yang ngopeni web pribadi. Sebab, multitalenta sebagaimana saya sebutkan di atas akan bisa didapatkan.

Posting Komentar

0 Komentar