Pagi Jumat (12/6) pukul 09.55 Wib, saya bertemu dengan rekan dosen dari Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban, Bapak Rinwanto, yang ternyata Kaprodi Hukum Keluarga Islam (HKI). Kehadirannya di Unugiri, dalam rangka menghadiri sidang tesis Kepala MTs Syi’ar Islam Maibit.
Ketika beliau sampai di Unugiri, saya ajak ngopi. Hal itu, sambil menanti sidang tesis selesai. Di warung kopi pak Tolib, kami ngobrol banyak hal. Utamanya adalah literasi –menulis, bagaimana memulai dari diri dan juga kepada mahasiswa.
Bahkan, beliau juga berencana ingin menyebarkan ke peserta didik di sekolah atau madrasah yang ada di Tuban. “Ingin menggandeng mas Usman,” tutur beliau yang energik.
Diskusi gayeng di warkop tersebut, punya tujuan bagaimana dari disiplin yang saya miliki –dalam hal ini PAI, dan beliau HKI, bisa ada sinergi lintas keilmuan dan kampus (interdisipliner). Temanya, adalah menggalakkan literasi diri dan lembaga.
Ketika lembaga sudah terbentuk literasi dasar –menulis, maka lembaga yang menahbiskan diri sebagai sekolah/madrasah literasi akan muncul dan menjadi distingsi dengan yang lain. Sebab, dalam amatan saya, penyematan sekolah/madrasah baru sebatasan berkarakter, adiwiyata dan sebagainya.
Inilah PR menarik yang kami diskusikan selama di warkop, dan perlu ditindak lanjuti dalam bentuk konkrit pelatihan, workshop, serta jenis format lain sebagai upaya peningkatan keterampilan peserta didik-pendidik.
Beri Bukti
Dalam diskusi tersebut, saya juga memberi contoh konkrit sekolah di Bojonegoro –tepatnya di Plesunggan, Kapas; yang telah menghasilkan luaran karya buku sebagai implementasi literasi menulis. Bahkan, buku karya peserta didik, dibagikan saat tasyakuran akhirussanah di mana fotonya juga sudah saya share kepada beliau.
Selain itu, hasil karya tulis mahasiswa Prodi PAI perihal kearifan lokal (local wisdom) yang berbicara perihal sejarah desa, kebudayaan dari Bojonegoro, Tuban, Blora dan ada dari luar Jawa, saya perlihatkan.
Tiga buku yang sempat saya tunjukkan kepada beliau berjudul “Menjaga Warisan Leluhur” karya Mahasiswa PAI 7B, “Bumi dalam Dekapan Budaya” karya Mahasiswa PAI 7E, serta “Menyulam Kearifan Lokal” karya Mahasiswa PAI 7D.
Di hadapan beliau juga, atas hasil buku yang saya tunjukkan, "seolah" memberi amunisi semangat penguatan literasi menulis kepada generasi kini yang berada di atas ubun-ubun. Artinya, segera, kapan, gass, dan tidak pakai lama.
Di hadapan saya, mas kaprodi sangat bahagia atas silaturrahim kecil ini. Bahkan, kami sempat salat Jumat bareng di Masjid Baabus Shofa via jalan kaki. Dalam niatan kecil, kami bisa saja naik motor. Tetapi, tujuan kami sembari berolahgara meski telat di siang hari.
Setelah Jumatan, kami menikmati kuliner dengan harga terjangkau, tepatnya di depan RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo. Modelnya prasmanan, di mana pengunjung bisa ambil nasi dengan porsi sedikit, sedang, hingga banyak. Lauk pauknya juga macam-macam. Mulai dari jangan menir, asem lumbu dan long telo (Jawanya), kare, iwak pe dan masih banyak yang lain.
Selesai makan, kami masih teruskan diskusi akademik agar kita –saya dan mas kaprodi, bisa meningkatkan kompetensi dan juga berkontribusi dalam perolehan penerimaan mahasiswa baru (PMB) di kampus kami masing-masing.
Perihal isinya, tentu tidak bisa saya jelentrehkan di sini. Intinya, keterampilan menulis akan istikamah kami asah sebagai distingsi (pembeda) dengan yang lain. Itu saja ceritanya.

0 Komentar