Ikut Memiliki, Benarkah Punah!

Tulisan ini hakikatnya dibuat untuk dijadikan refleksi bersama. Saya sebagai penulis, dan pembaca yang budiman. Apa benar, rasa untuk “memiliki” kita sudah punah? Rasa memiliki yang penulis maksud adalah, rasa ikut menjaga sesuatu yang bukan milik kita, lalu kita posisikan layaknya milik kita sendiri.

Memang, di mana-mana, yang namanya sesuatu yang tidak milik kita, itu kadang luput dari perhatian. Banyak dalih yang mendukung. Itu bukan tugas kita. Itukan milik lembaga, dan sudah ada “anggaran” untuk perawatan.

Kaidah yang disampaikan di atas betul. Hanya saja, mohon maaf, terlalu sempit untuk sekadar mengedukasi perilaku “ikut memiliki” menjadi sikap diri dan membumi. 

Masih terngiang jelas kala bekerja di Kota Semarang sambil menuntaskan program magister. Pimpinan saya, Prof. Ali Mansyur, adalah pribadi yang kuat ikut memiliki ketika beliau diamanahi menjadi Ketua Umum Yayasan Amal Pengajian Ahad Pagi Bersama (YAPAPB).

Suatu waktu, beliau datang dari kampus Unissula dan ngantor di yayasan. Melihat kamar mandi dalam luput dibersihkan oleh teman-teman OB berminggu-minggu, yang dilakukan bukan marah-marah. Beliau lingkis baju dan celana, kemudian masuk kamar mandi lalu dikosek sendiri hingga bersih.

Setelah selesai, beliau menghampiri saya yang lagi menyelesaikan tugas yang beliau berikan kepada saya. Beliau matur, “Mas Usman, rasa memiliki itu kudu kita latih. Jangan pandang saya sebagai profesor, selagi saya bisa membantu apa untuk lembaga ini, akan saya lakukan. Jangan pernah malu melakukan hal remeh seperti ini,” urai beliau yang saya catat dengan baik.

Mendengar hal itu, inilah pelajaran berharga yang bisa saya dapatkan. Sekelas beliau yang profesor dan tokoh ternama di Jawa Tengah saja, tidak malu ngosek toilet kantornya sendiri sebagai bagian ikut memiliki. 

Melihat cerminan perilaku tersebut, tidak selamanya pula kita harus bergantung dengan orang lain. Pada bagian-bagian tertentu, kita juga bisa mengambil peran untuk melengkapi “menjadi bersih” sebagaimana yang dicontohkan beliau.

Pinjam Bersih, Pulang Bersih

Dulu, kala menggunakan sekali –motor inventaris– untuk kegiatan mengantar surat, saya lihat debu dan kotoran banyak menempel. Sebagai ucapan terima kasih karena telah dipinjami fasilitas kampus, selesai antar surat, kemudian mampir ke tukang cucian motor. Sehingga, ketika sudah bersih dan mengkilap, baru kemudian saya kembalikan lagi ke kampus.

Apa yang saya lakukan tidak hendak minta dipuji. Lebih kepada kesadaran diri oleh rasa terima kasih kampus telah mengizinkan saya menggunakan salah satu fasilitas untuk tugas antar surat. Kemudian langkah mencucikan, sekadar campur tangan menambah usia keberadaan motor, biar awet dari sisi keberadaan.

Saya dan panjenengan yang membaca tulisan ini sudah banyak mirsani, bila banyak fasilitas diberbagai instansi luput dari perawatan. Padahal, semakin tidak dan jarang dirawat, keberadaanya akan semakin tidak baik-baik saja. 

Ketika kemudian puncaknya tidak baik-baik saja terjadi –sebagai misal kerusakan yang mayor– maka baru kemudian kaget. Kok banyak amat? Siapa yang menggunakan? Dan ragam pertanyaan yang justru mencari kambing hitam sebagai penyebab.  

Akhirnya, masak tega, menggunakan fasilitas di mana mau enaknya saja? Bila jawabannya "tega", mungkin “ia” belum selesai dengan kesalihan dirinya.

Posting Komentar

0 Komentar